Mencakup Segala Hal Mengenai Informasi Olahraga dan Aktivitas Kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan

For Advertisement

Kesimpulan dan Reflektif Perjalanan Pendidikan Nasional

Perjalanan Pendidikan Nasional


KESIMPULAN 

Pendidikan di Indonesia sebelum kemerdekaan (zaman kolonial)


Pendidikan pada masa Belanda

Pendidikan yang dilakukan pada zaman kolonial terpaku terhadap ideologi bangsa Belanda, sehingga pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan pemahaman Belanda yang berakibat pada pendidikan yang diatur secara sistematis agar murid/siswa yang mengikuti pendidikan di zaman kolonial akan mengikuti serta menjadikan pembelajaran yang didapatkan, perjalanan yang di dapatkan adalah sebuah landasan yang akan diteruskan kezaman berikutnya. Pendidikan yang diberikan oleh Belanda kepada masyarakat Indonesia bertujuan untuk menciptakan SDM masyarakat Indonesia yang siap menjadi tenaga kerja untuk Belanda dan diberi upah yang minim.

Dampak positif dari pendidikan yang diberikan Belanda adalah terbentuknya Lembaga pendidikan di Indonesia yang dibangun oleh tokoh-tokoh pendidikan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah:

Bung Tomo yang mendirikan Kweek School,

KH Ahmad Dahlan yang mendirikan pendidikan Muhammadiyah,

Trikoro Dharmo yang mendirikan perkumpulan pemuda,

RA Kartini yang meperjuangkan hak perempuan,

Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Taman siswa.

Pendidikan pada masa Jepang

Jepang merupakan negara yang menjajah Indonesia dengan jangka waktu yang cukup pendek yakni dari 17 Maret 1942 sampai 17 Agustus 1945. Jepang juga memberikan pendidikan di Indonesia dengan tujuan untuk menguasai Indonesia secara maksimal. Pendirian beberapa sekolah oleh pemerintah Jepang berhubungan dengan usaha penanaman ideologi Jepang yaitu Hakko Ichiu yang artinya Delapan Benang di Bawah Satu Atap. Jepang juga mewajibkan siswa untuk berlatih disiplin militer seperti tentara Jepang.

Pendidikan yang di terima dari bangsa barat tidak sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Pendidikan kolonial hanya untuk kepentingan kolonial saja dan hanya diberikan untuk golongan tertentu saja. Terlebih lagi pendidikan yang ada pada masa kolonial tidak mencerdaskan, melainkan mendidik manusia untuk tergantung pada nasib dan bersikap pasif. Ki Hadjar Dewantara mengangap bahwa pendidikan kolonial tidak dapat membentuk peri kehidupan bersama, sehingga selalu kita bergantung pada kaum penjajah. Pendidikaan kolonial tidak dapat menjadikan kita sebagai manusia merdeka. Keadaan ini tidak akan berubah jika hanya di lawan dengan pergerakan politik saja, tetapi juga harus di imbangi juga dengan gerakan pendidikan yang akan menyebarkan rasa merdeka di kalangan rakyat dengan jalan pengajaran dan pendidikan nasional. Dengan pendidikan nasional yang dimaksud yaitu suatu sistem pendidikan baru yang berdasarkan atas kebudayaan kita sendiri yang mengutamakan kepentingan masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara memiliki pandangan bahwa pendidikan bagi kaum muda merupakan syarat utama dalam membebaskan diri dari jeratan penjajah. Pendidikan yang mendasarkan kebudayaan nasional dapat menghindarkan dari kebodohan. Keinginan untuk merdeka harus dimulai dengan mempersiapkan kaum bumi putra yang bebas, mandiri, dan pekerja keras. Sehingga beliau bertekad untuk meluaskan semangat tentang pendidikan kepada generasi muda.

 

Pendidikan di Indonesia setelah kemerdekaan

Dasar-dasar pendidikan menganut prinsip demokrasi, kemerdekaan, dan keadilan sosial. Kondisi pendidikan di Indonesia setelah merdeka ini mengarah terhadap perubahan proses pembelajaran dan landasan pendidikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan di era ini, bangsa Indonesia berusaha menghilangkan paham-paham pendidikan Belanda, sehingga siswa Indonesia memiliki ciri khas dari siswa Indonesia. Pembelajaran didesain sedemikian rupa agar budaya bangsa Indonesia dapat terus diwariskan kegenerasi selanjutnya.

 

Pendidikan di Indonesia pada era Pendidikan Abad ke-21

Keberadaan Abad ke-21 ditandai dengan adanya era revolusi industri 4.0 yang mana pada abad ke-21 menjadikan abad keterbukaan atau abad globalisasi. Pada saat ini Indonesia memasuki dan bahkan sedang berjalan era revolusi industri 4.0. Pada pembelajaran ini tidak lagi berfokus terhadap penerapan kebudayaan lagi namun, berfokus terhadapat kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kecakapan komunikasi, kreativitas dan inovasi, serta kolaborasi. Pada zaman ini teknologi merupakan sarana utama dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

 

REFLEKSI

Berdasarkan pidato sambutan Ki Hajar Dewantara saat pemberian gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Gajah Mada (7 November 1956)

 

"pendidikan" adalah tempat persemaian segala benih -- benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik -- baiknya. (artinya disini adalah saya merefleksi diri untuk menjadikan pendidikan itu adalah sebagai tempat menanam benih kebudayaan dari pendidikan lah muncul peradaban generasi Indonesia yang beradab dan berakhlak mulia)

Disamping pendidikan kecerdasan pikiran,  harus ada pendidikan yang kultural (disini saya merefleksikan yang masih ada keterkaitan dengan poin pertama bahwa  pendidikan bukan hanya sekedar untuk kecerdasan kognitif tetapi juga membangun moral dan etika peserta didik)

Didiklah anak -- anak kita dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya (dari sini juga saya merefleksi bahwa saya harus terus belajar menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar saya bisa mengajar peserta didik sesuai dengan zamannya)

Tiap tahun pelajar -- pelajar kita terus terancam oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualitas. Mereka belajar tidak untuk perkembangan hidup kejiawaannya, sebaliknya mereka belajar hanya untuk dapat nilai -- nilai yang tinggi dalam raport -- sekolahnya atau supaya mendapatkan ijazah. (disini saya merefleksi diri bahwasanya ketika saya menjadi seorang guru saya berusaha untuk menanamkan kepada peserta didik bahwa nilai adalah bukan segalanya melainkan proses pembelajaran itulah yang sebaik-baiknya. Proses pembelajaran disini dimaksudkan proses pembelajaran yang jujur, berkpribadian baik sehingga dari proses pembelajaran ini rahirlah generasi -- generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia yang tentunya sesuai dengan profil pelajar pancasila

Pernyataan Ki Hadjar Dewantara juga merupakan suatu refleksi diri bagi saya

 

"Pendidik itu menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak -- anak agar dapat memperbaiki lakunya. Hidup dan tumbuhnya kodrat anak (bukan dasarnya)"

 

Dari sini saya merefleksi diri ketika nanti menjadi seorang guru kita harus tau apa yang menjadi kompetensi dari dalam diri anak didik saya lalu dari sanalah saya berangkat untuk mengembangkan potensi dirinya bukan menuntut peserta didik untuk menjadi pribadi yang bukan sebenarnya pada dirinya tetapi, tidak memaksakan apa yang menjadi keinginan saya supaya dilakukan oleh peserta didik namun apa yang menjadi kodratnya apa yang menjadi bakat dan mintanya itulah sebisa mungkin akan saya arahkan untuk mengembangkan potensi mereka, supaya peserta didik mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam mencapai tujuannya seperti pernyataan Ki Hadjar Dewantara tersebut.
Share:

Rusaknya Lapangan Atletik Prof Dirham

Opini

Selasa,(14/5) Lapangan Prof. Dirham merupakan Gedung Laboratorium Olahraga Sepak Bola dan Atletik yang berada di  FIK UNNES.
Namun, pada saat ini lapangan Prof. Dirham di gunakan sebagai perkuliahan sepak bola dan atletik untuk mahasiswa FIK UNNES. Sore harinya dipakai secara umum ada perkuliahan, mahasiswa unnes, masyarakat sekitar UNNES.
Tapi pada saat ini lapangan Prof. Dirham khususnya pada lapangan sentelban mulai rusak, karena kurangnya perawatan, kurangnya di siram pada saat panas sehingga lapangan rusak, kurang perhatiannya petugas untuk pool sepatu yang keras sehingga bisa merusak lapangan sentelban. Sangaat disayangkan padahal karpet lapangan atletik itu sangat mahal.
Menurut saya, harus ada perawatan pada lapangan atletik sehingga untuk meminimalisir kerusakan, di tambah adanya petugas untuk melihat pengguna lapangan atletik yang sepatu poolnya keras. Sehingga lapangan Prof. Dirham  khususnya lapangan atletik bisa kembali normal.

Bayu Nur Soma F.

183
Share:

Live report ukm pencak silat

Share:

Live Report Woodball


Bayu Nur Soma F
183

Share:

Profil Atlet Handball Putri asal Kaliwungu Kendal

Reportase


SEMARANG – Nov itulah nama panggilan yang sering di gunakannya dan memiliki nama asli Novitasari Mulat Ratri, yang lahir di Boyolali, 7 November 1998. Saat ini Novita tinggal di Perumahan Karina gang mangga I RT 03 RW 03 Kaliwungu Kabupaten Kendal. Sekarang Novita melanjutkan pendidikannya di Semarang tepatnya di FIK UNNES jurusan S1 PJKR, sekarang Novita adalah mahasiswa aktif semester 4 dan aktif dalam organisasi HIMA PJKR.
Novita mulai menekuni olahraga Handball pada SMK kelas 10. Pada kelas 11 mengikuti kejuaraan, mendapat juara 2 Kabupaten pada tahun 2016 dan juara 2 Provinsi pada tahun 2016 dengan memperkuat tim SMK 1 Kendal. Novita juga memperkuat Tim Kendal dalam Pra-Porprov di Solo dan mendapatakan juara 3. “Saya juga mengikuti seleksi di tingkat nasional, seleksi pon tapi tidak lolos kalah berat sama orang dalam” Kata Novita.” Giat berlatih dan tambah porsi latihan di luar jadwal dalam Tim agar kita bisa meningkatkan prestasi” Lanjut Novita

Bayu Nur Soma F
183



Share:

Berlibur ke Dieng

Feature

SEMARANG – Ketika larut malam hp berdering dengan nada yang tidak begitu pelan tidak pula begitu keras, saya menerima telepon dari sahabat saya ajakan berlibur ke Dieng. Pada tanggal 14, hari jumat pukul 11:56 saya menerima telepon dari sahabat saya Egik yang mengajak berlibur ke Dieng. Pada pukul 01.30 kita kumpul di salah satu rumah sahabat saya Egik yang letak rumahnya di Banyubiru dan di situ bersama teman lain yaitu Mas Roby, Mas Momo, Mas Roby.
Kita berangkat pada pukul 02:00 WIB dengan gerobak roda empat (mobil cery). Sepanjang jalan dalam gerobak kita mendengarkan lahu lagu senjang jalan, lagunyapun yang selow dengan nuansa lagu kenangan. Kita sampai di dieng pukul 04:25 lalu kita istirahat sejenak lalu lanjut solat subuh, setelah solat kita beli kopi sambil menikmati munculnyaaa matahari dengan bercerita tentang masa lalu ataupun masa depan.
Lalu lanjut dengan berjalan jalan ke Kompleks Candi Arjuna, Kompleks Candi Gatutkaca, Kompleks Candi Dwarawati, candi candi di situ sangat bagus dan  masih terawat. Kita sempatkan berfoto untuk kenangan. Lalu kita lanjut dengan makan siang dan jalan ke kawah Dieng, pertama kali liat langusng kawah dieng sangat indah sekali, kita ya menyempatkan untuk berfoto. Lalu kita lanjut berjalan jalan dan beristirahat. Ketika malam tiba kita menikmati bintang bintang yang sangat indah sekali, kita seperti di bawah bintang langsung, karna di situ kita melihat bintang seperti sangat dekat sekali. Pada pukul 01:31 kita lanjut perjalan pulang, karna pada malam jalan sepi. Pada pukul 04:30 sampailah di rumah lanjut solat lalu istirahat.

Bayu Nur Soma F

183
Share:

Final Pertandingan Bulutangkis ganda Putra di Ambarawa

Straight News

Minggu,(16/4) pada laga final kali ini yaitu mempertandingkan antara Simon yang berasal dari daerah jambu dengan Alex yang berasal dari daerah banyu biru.
Pada laga kali ini untuk memperebutkan piala Bupati Cup di Ambarawa, yang hadiah utamanya juara satu itu uang sbesar Rp 2.500.000.
Dan pertandingan kali ini dimenangkan oleh simon, yaitu dengan skor 21-18 dan 21-19. Yaitu langsung dimenangkan 2 set langsung.
Pertandingan ini bisa berlangsung seperti ini berkat adanya dukungan dari pikah sponsor dan panitia-panitia penyelenggara.

Bayu Nur Soma F

183
Share:

Pentingnya Mata Kuliah Sport Jurnalism di PJKR UNNES

Opini

Rabu,(15/5) Sport jurnalism ini merupakan bentuk tulisan yang melaporkan topik dan kompetisi olahraga. Dalam mata kuliah Sport Jurnalism kita mempelajari bagaimana caranya membuat berita, di dalam sport jurnalisme ini mempelajari beberapa bentuk berita seperti, stright news,reportase,feuture, dan opini.
Dalam Sport Jurnalism ini mempelajari bagaimana menulis tantanan berita baik dan benar, dari mulai segi bahasa mapun penataan tulisan.  mengolah untuk dijadikan berita, lalu mempublikasikan.Dalam membuat berita reportase, kita memperaktekan siaran di depan kamera. Dimana kita di tuntut pintar berbicara di depan umum dan menanyakan kepada narasumber untuk menggiring pertanyaan agar pemirsa  atau pendengar bisa masuk kedalam alur berita yang di sampaikan.
Mempelajari Sport Jurnalism sangat penting untuk bekal kedepanya. Dimana nantinya kita sebagai calon guru, sebagai contoh di depan. Sudah seharusnya kita mempunyai rasa percaya diri saat berbicara di depan murid-murid banyak.
Ada satu materi yang menarik yaitu live report di mana kita melakukan siaran langsung di tempat umum dan kita harus mewawancarai salah satu narasumber yang tidak kita kenal. Dan di situ kita mnedapat tantangan dimana harus e membawa narasumber agar bisa mengikuti alur cerita atau pertanyaan  yang kita berikan. Agar yang melihat bisa paham atau mengerti.

Bayu Nur Soma F
183
Share:

PEMBEKALAN PPL(Program Pendidikan Lanjutan) PJKR DAN PGPJSD 2016 UNNES



PEMBEKALAN PPL(Program Pendidikan Lanjutan) PJKR DAN PGPJSD 2016 UNNES


Rabu,(24/4) Jurusan Pendidikan Kesehatan Dan Rekreasi telah menyelenggarakan acara atau kegiatan pembekalaan PPL yang ditujukan kepada seluruh mahasiswa semester 6 Program Studi PJKR dan PGPJSD. Secara sekilas, acara tersebut terbilang cukup sukses. Hal tersebut terlihat dari banyaknya jumlah mahasiswa yang hadir dan seluruh mahasiswa ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Pada kegiatan pembekalan PPL tersebut tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan, Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi saja melainkan dihadiri juga oleh Guru yang sedang menjalani program PPG yang cenderung jauh lebih senior dari mahasiswa semester 6.

Selain itu, pihak Jurusan PJKR menghadirkan 4 orang pembicara. Yang mana keempat pembicara yang dihadirkan merupakan guru-guru yang mewakili guru-guru se-Indonesia untuk melakukan kegiatan pengamatan pembelajaran pendidikan jasmani di salah satu universitas terpandang di Australia. Keempat pembicara tersebut yaitu : Pak Deni ( Guru Penjas SMA N 3 Salatiga), Pak Hendro (Guru Penjas SD N 1 Linggasari Banyumas), Pak Anggara ( Guru Penjas SMK 7 Surakarta), Pak Tonang (Guru Penjas SMP di Klaten).

Materi yang diberikan atau dipaparkan oleh pembicara dalam pembekalan PPL yaitu konsep pembelajaran penjas yang dilaksanakan di Australia yaitu menggunakan konsep TGFU atau Teaching Game For Understanding. Model atau metode pembelajaran dari Australia yang di paparkan oleh pembicara ini dibandingkan dengan yang ada atau yang dipakai di Indonesia, hal tersebut ditujukan agar mahasiswa mengetahui model mana yang lebih baik ataupun efektif.

Kegiatan pembekalan PPL ini tidak hanya mahasiswa menyimak materi yang diberikan tapi seluruh mahasiswa juga ikut berpartisipasi karena dalam kegiatan tersebut mahasiswa melakukan demonstrasi-demonstrasi berkelompok sesuai arahan dari pembicara. Dalam kegiatan tersebut mahasiswa PJKR maupun porgram PPG diberikan 2 contoh materi yaitu Teknik Dasar Passing Bola Basket dan Teknik Dasar Passing Permainan Sepak Bola.

Ada salah salah satu kata yang sabus sekali untuk wejangan bagi mahasiswa untuk bekal nanti saat terjun dilapangan melakukan PPL (Program Pendidikan Lanjutan) dan juga buat bapak-bapak guru PPG(Pendidikan Profesi Guru) yaitu buatlah nyaman atau senang dulu anak terhadap pembelajaran penjas, maka anak tersebut akan senang saat melalukan engan senang selanjutnya terhadap pembelajaran penjas tersebut.  
Antusiasme mahasiswa PJKR maupun program PPG sangat baik terlihat dalam pelaksanaan kegiatan sangat bersemangat dan ramai sekali bagaikan ramainya pasang krempyeng saat pagi hari. Dalam kegiatan tersebut ada juga sesi tanya jawab kepada para pembicara setelah usai melakukan demonstrasi kedua model atau metode pembelajaran yang dilakukan di Indonesia dengan Australia.

MOCHAMAD RIFA'I
6101416185



Share:

Recent Posts

Sponsors

Pages