Feature
Perjalanan Mendaki Gunung Api Paling Aktif
Libur semester telah
tiba. Untuk merayakannya, saya bersama teman-teman memutuskan untuk pergi
mendaki Gunung Merapi pada 7 Agustus
2017. Saya memilih Gunung Merapi karena sejak kecil saya sangat ingin menginjakan
kaki di gunung yang merupakan gunung berapi paling aktif didunia.
Perjalanan dimulai saat pagi
buta, senin (7/8) tepat pukul 06.30 saya berkumpul dirumah teman, dan tepat
pukul 08.30 saya dan dua teman saya berangkat menuju lokasi yang kami tuju.
Kami berangkat dari Karanganyar menuju Boyolali menempuh jarak 75 km dengan
mengendarai sepeda motor. Selama perjalanan kami melewati kota – kota hingga
pedesaan. Kami di hadapkan dengan berbagai medan jalanan yang terjal,
berliku-liku, menanjak tinggi dan menurun. Selama perjalanan pun kami disugui
dengan pemandangan yang sangat elok nan cantik. Kami melihat banyak pepohonan,
perkebunan warga sekitar yang hijau, membuat mata kami menjadi sejuk untuk
melihatnya. Selain itu kami dapat menikmati udara yang begitu sejuk, segar,
tanpa adanya polusi saat perjalanan. Dalam perjalanan menuju Basecamp New Selo kami dihadapkan dengan
kabut yang sangat tebal menyelimuti jalanan lereng gunung sampai-sampai membuat
jarak pandang pun terbatas.
Setelah kami tiba di Basecamp New Selo. Kedatangan kami disambut
dinginnya udara yang diselimuti kabut tebal. Udara disana sangat dingin bahkan
dinginya sampai terasa meski kami menggunakan pakaian ekstra tebal. Kami
memutuskan untuk beristirahat cukup lama, sembari menunggu kabut sedikit
berkurang dan aklimatisasi dengan cuaca disana. Kami mulai mendaki setelah menunaikan
ibadah sholat dhuhur. Sebelum mendaki kami berdoa terlebih dahulu untuk
kelancaran dan keselamatan saat pendakian pertama kami di Gunung Merapi.
Pendakian pun dimulai
dengan modal keberanian kami mengawali pendakian melewati jalur beraspal menanjak.
Lalu kami mulai menyusuri track di
jalur pendakian New Selo dengan ditemani kicauan burung-burung dan suara
serangga. Kami sangat semangat dan sangat teramat menikmati setiap langkah yang
kami ambil. Meskipun banyak track terjal,
berpasir, bebatuan yang sangat sulit dilalui hingga membuat kami terjatuh dan
terpeleset, kami tetap menikmatinya dengan tawa dan sendau gurau.
Setelah 1 jam pendakian
dari New Selo, kami tiba di sebuah shelter Pos Bayangan 1. Kami istirahat
sejenak di Pos tersebut. Setelah selesai beristirahat kami melanjutkan
pendaikan dimana kami menemui medan yang didominasi track bebatuan. Sekitar 1,5 jam kami sampai di pos 1 dan kami
memutuskan untuk langsung mengistirahatkan kaki dan tubuh yang mulai amat
sangat kelelahan. Setelah selesai beristirahat kami melanjutkan pendakian, track yang kami lalui masih sama yaitu
medan yang didominasi banyak bebatuan. Kami berjalan menyusuri track bebatuan
ini selama 1 jam hingga sampai di pos 2.
Selanjutnya pendakian
kami disuguhi track full bebatuan
besar dengan jalan yang menanjak tegak. Kami pun menyusuri track ini dengan sangat hati-hati karena track bebatuan sangat
rawan untuk jatuh dan runtuh. Apalagi medan
bebatuan yang kami lewati kali ini berupa medan bebatuan yang sangat besar bahkan
sebesar raksasa. Disini kami menemui banyak kumpulan satwa kera yang sedang
berkeliaran. Dan disini kami juga bertemu dengan turis mancanegara dari Jerman,
kamipun sempat berbincang dan bercanda sebentar dengan mereka. Tidak
ketinggalan disiini kami mengambil foto-foto pemandangan yang sangat memanjakan
mata. Sembari mengambil foto kami pun juga mengambil waktu beristirahat dengan
duduk diatas bebatuan besar.
Setelah melanjutkan sekitar
1 jam pendakian kami melewati batas vegetasi dengan track berupa medan kerikil dengan jalan yang tidak terlalu
menanjak. Tidak lama kami menyusurinya kamipun sampai di pos terakhir yaitu
Pasar Bubrah. Kami sampai menjelang
magrib, dan disini sepanjang mata memandang kamipun disuguhkan padang
bebatuan-bebatuan dan bercampur material pasir. Tidak hanya bebatuan dan pasir
dari pos Pasar Bubrah kami dapat melihat puncak Gunung Merapi, saat sampai
disini dan melihat pemandangannya kami pun lega dan memutuskan untuk mendirikan
tenda di pos terakhir ini untuk bermalam dan melanjutkan naik menuju puncak.
Namun sebelum kami menemukan tempat untuk mendirikan tenda, kami dikejutkan
oleh sesuati yang berada di balik batu yang berada disemak-semak belukar. Saya
pun penasaran dan memberitahu kedua teman untuk melihatnya. Setelah kami
melihatnya kamipun dibuat terkejut dengan apa yang telah kami lihat. Kami
menemukan seekor ayam jago yang bulunya terbalik (Orang Jawa menyebutnya Pitik
Walik) yang sebagian bulunya sudah rontok. Kami pun dengan spontan bingung dan
heran bagaimana bisa terdapat ayam hidup disini.
Setelah dikagetkan oleh
ayam jago yang ternyata merupakan penunggu pos terakhir Gunung Merapi, kamipun
mendirikan tenda dan dilanjutkan untuk menyalakan api unggun untuk
menghangatkan tubuh kami dari dinginnya udara yang mencekram tubuh kami. Kami
pun menikmati malam dengan berbincang-bincang sambil menyeduh kopi dan susu bersama
sembari memandangi bulan yang menerangi malam dimana terlihat sangat besar dan
terlihat sangat dekat sekali. Selanjutnya setelah api unggun yang kami buat
mulai padam kami pun memilih untuk mengistirahatkan badan yang lelah dari
pendakian untuk melanjutkan pendakian menuju puncak.
Pukul 5 pagi, setelah
menunaikan ibadah sholat subuh kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Saya
pun sangat bersemangat dan menggebu gebu untuk dapat sampai puncak dan melihat
matahari terbit dari puncak gunung berapi paling aktif di duinia. Pendakian
saat itu sangat menantang, dimana medan yang dihadapi lebih sulit dan perlu
ekstra hati-hati karena jarak pandang pun terbatas. Medan kali ini diawali
dengan pasir dan selanjutnya bebatuan besar tegak dan menjulang tinggi.
Setelah beberapa menit
akhirnya saya mampu menginjakan kaki di puncak Gunung Merapi. Adrenalin pun
mulai menggebu ketika kami disambut dengan pemandangan bibir kawah Gunung
Merapi yang menganga lebar dengan pinggiran pijakan kami semua berupa jurang
yang dalamnya ratusan meter. Dari kawah tersebut kami pun melihat kepulan asap
belerang pekat yang dikeluarkan.
Namun ketika kaki
melangkahkan di puncak gunung rasa bangga, lega, dan senang seketika juga muncul
bergejolak. Saya bangga bisa menaklukan gunung yang dari kecil saya
impi-impikan. Rasa lega dari perjuangan pendakian dengan beban yang berat,
medan yang sulit, track yang baru pertama dilewati akhirnya mencapai akhir dan
puncaknya. Rasa lelah, pun terbayarkan dengan apa yang saya dan teman- teman
dapatkan di puncak. Seketika rasa lelah hilang entah kemana, ketika kami
melihat karunia Allah, ciptaan Allah yang begitu luar biasa. Sinar matahari
terbit yang muncul mulai menyinari terlihat begitu terang membuat mata tak
kuasa melihat. Pemandangan gunung-gunung lain pun terlihat sangatlah indah,
menawan, mempesona tiada dua. Gunung Merbabu contohnya ia terlihat berdiri
gagah menjulang tinggi membuat kami tertawa-tawa sendiri bisa diberi kesempatan
untuk menikmati ciptaan Allah yang begitu indah. Kami pun tak henti-henti
mengucap syukur kepada Allah dan kami pun tak lupa mengabadikan momen berharga
kala itu dengan mengambil foto bersama-sama dan ditemani teman baru dari turis mancanegara dan dari luar Jawa.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar